Kita telah berpuluh tahun, orang tua dan leluhur kita tentunya sudah beratus tahun banyak mendengar dari obrolan saudara antar nusa, sekota dan sedesa, juga kini kita banyak membaca di massmedia dan media sosial ini bahwasanya diantara suku-suku pedalaman, di desa-desa terpencil nun jauh disana, mereka adalah saudara-saudara kita yang hidupnya harmonis.

Mereka telah mengecap sakinah, mawadah – warahmah melalui pola hidup yang mempunyai ketergantungan tinggi pada alam sekitarnya; hutan, sungai yang airnya bening, pada udara bersih, asyik nikmat dengan keheningan alam di malam hari yang kerapkali menjadi keindahan suasana alam sekitarnya yang membuat mereka betah dan nyaman dengan semilir dan gemuruh angin, gemerisiknya dedaunan, gemerciknya swara sungai – jatuhnya tetesan air diatas batu, suara ranting kering jatuh, swara burung koak, gerakan serangga tertentu.

Di pagi ke siangnya dengung serombongan lebah hutan, merdunya kicauan burung sampai teriakan girang anak-anak yang sedang bermain di atas tanah coklat, atas tanah merah ladang.

Diantara suku-suku di bangsa Nusantara itu kita mengenal akan keberadaan Masyarakat Baduy di provinsi Banten yang hidup harmoni dengan alam semesta itu. Yang hidupnya murni mulai pangan, sandang dan papan seutuhnya dari “alam yang disediakan’ dari Tuhan pemangku semesta alam yang mereka agungkan dalam ucap dan adab yang dibungkus menjadi “pakem kehidupan” sehingga tetap lestari menjadi adat budaya.

Suku atau Masyarakat Adat Baduy sungguh cinta damai, sungguh menghormati sesama, sungguh terbukti abad ke abad senantiasa taat pada Undang-Undang yang bijak yang mereka buat yang mereka sefakati bersama secara turun temurun.

Merekapun sangat patuh pada UU yang dibuat negara dan peraturan daerah dari pemerintah daerahnya. Benar adanya saudara Sunda asli ini adalah sebuah suku-masyarakat teladan yang luar biasa untuk kekayaan serta kebhinekaan Indonesia.

Siapa yang punya hasrat menggebu dan mengganggunya itu niat dan perbuatan tak tahu malu, tak punya adab, tak mau tahu indahnya hidup bernegara bangsa, hanya semata mengikuti hawa nafsu, dan melaksanakan proyek kepentingan ekonomi dan memaksakan proyek jualan agama, dan lebih tidak beradab kerna “yang menganggap seorang manusia dusun, sebuah suku, sebuah komunitas adat itu obyek mentah” yang harus dipindahkan lokasi ruang hidupnya dengan nafsu menggusur hutan dan sungai adatnya, mengalihkan keyakinan dengan tawaran – jualan agama.

Padahal sejatinya suku Baduy itu sudah beragama Islam jauh sejak zaman Pajajaran, artinya Islam bagi mereka adalah sudah berhasil menyelamatkan diri, menyelamatkan keluarganya dan lingkungan alamnya dari berbagai godaan jelek dunia. Suku Baduy tentu sudah mencapai kedudukan sebagai “muslim hakiki”, mengapa dan bagaimana itu yang disebut muslim?
Secara harapiah muslim itu sebutan bagi pemeluk agama Islam. Baduy bukan hanya memeluk Islam tetapi Islam sudah menjadi perilaku sudah menjadi pedoman sepanjang hayat dan adat.

Muslim bermakna manusia yang tidak mengganggu dan melukai dengan ucapan maupun tindakan buruk terhadap sesamanya dan kepada hewan, kepada tumbuhan dan terhadap alam sekitarnya. Sungguh suku Baduy itu sejatinya sudah menjadi muslim, mereka itu contoh terbaik dari zaman baheula sampai zaman kini sebuah masyarakat yang sangat memuliakan lingkungan alamnya dibandingkan kita yang hidup di kota yang sudah tergerus nilai-nilai kearifan lokalnya, sudah samar tak mengenal ‘jatidiri bangsa’ sebab sebagian dari kita sudah tercerabut dari akar budayanya dari lokalitasnya, dan menjadi Malin Kundang Baru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here