Gerakan aceh merdeka (GAM) untuk memperoleh kemerdekaan dari Indonesia antara 1976 hingga tahun 2005 operasi militer dilakukan oleh TNI POLRI 2003-2004 beserta kehancuran yang disebabkan gempa bumi di samudera Hindia tahun 2004 menyebabkan diadakannya persetujuan perdamaian dan berakhirnya pemberontakan.

Setelah pemerintah Indonesia dianggap gagal menjalankan kewajibannya sesuai dengan perjanjian damai tersebut memperingatkan bahwa kekerasan baru akan terjadi jika masalah ini tidak diselesaikan. Hasil perdamaian Helsingki lahirnya otonomi khusus untuk Aceh ditarik tentara Indonesia misi pemantauan Aceh dan diadakannya pilkada.

Jutaan masyarakat Aceh bersuka cita menanti detik-detik penandatanganan kesepakatan damai antara pemerintah Republik Indonesia dengan pihak gerakan Aceh Merdeka di Helsingki Vilandia pada tanggal 15 Agustus 2005. MOU Helsingki ditandatangani oleh perwakilan Gerakan Aceh Merdeka Malik Mahmud Al Haitar dan Hamid Awaluddin yang mewakili Pemerintah Indonesia dan dimediasi oleh presiden Vilandia Martti Ahtisaari saat itu jutaan penduduk Aceh menggelar doa dan dzikir sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas terjalinnya perdamaian mengakhiri komplik bersenjata yanng telah menelan korban ribuan jiwa di provinsi paling ujung barat Indonesia.

Kesempatan damai antara pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka di Helsingki juga memperkokoh sebuah pepatah Aceh sebuah pepatah Aceh yakni (pat hujen yang han pirang pat prang yang hana reda) diartikan dalam Bahasa Indonesia mana hujan yang tak berhenti mana ada perang yang tak berakhir. Kendati kini sudah berjalan 15 tahun perdamaian Aceh dan berbagai pihak optimis akan terus berlangsung untuk menyongsong masa depan yang lebih baik bagi daerah yang berstatus otonomi khusus dalam bingkai negara kesatuan Republik Indonesia.

Kendati demikian, diusia 15 tahun penandatanganan kesepakatan damai Aceh dengan Jakarta itu hingga kini sejumlah butir dari MOU Helsingki belum direalisasikan oleh pemerintah pusat. Saya yakin masyarakat Aceh telah mengambil pelajran dan pengalaman dalam perjalanan sejarah Indonesia karenanya sangatlah patut jika masa lalu itu menjadi cermin untuk membangun Aceh yang lebih baik.

Di antara upaya yang telah dilakukan pemerintah Aceh adalah penyediaan lahan bagi mantan kombatan GAM serta TAPOL dan NAPOL masyarakat imbas konflik, saya yakin dengan komitmen menjaga perdamaian tersebut akan terwujud kalau pemerintah pusat harus iklas terhadap apa yang sudah disepakati dalam MOU Helsingki Aceh merupakan 15 tahun Aceh dalam perdamaian hari-hari yang sakral bagi seluruh rakyat Aceh sebagaimana pemutusan konflik yang berlangsung panjang di Aceh harus disyukuri dan berlangsung abadi. Faktor-faktor yang mengakibatkan kemiskinan di provinsi Aceh berada di rata-rata nasional.

Banyak mantan-mantan kombatan GAM yang saat ini belum tersentuh perhatian dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat begitu juga tingkat pendidikan Aceh berada di rata-rata nasional musibah palng berat provinsi Aceh selama dekade dengan damai pembangunan Aceh harus dipacu dari berbagai aspek. Perjalan damai Aceh masih banyak kekkurangan dan harus dapat diperbaiki bersama aantar pemerintah pusat dan penyelenggara Aceh.

Baik eksekutif maupun legislatif serta harus mampu bekerja sama mengisi segala kekurangan MOU yang telah disepakati jangan ada pemisahan antar partai nasional dan partai lokal.

Perdamaian Aceh adalah nikmat terbesar dari Allah SWT yang wajib disyukuri momentum damai merupakan perjalan yangn sangat melelahkan dan menjadi bagian yang task terpisahkan dari perjalanan sejarah dan sekaligus pondasi dalam rangka menggapai kehidupan yang lebih baik dan bermartabat

Penulis : Arfiandi ST.MM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here