Buruh SBSI 

Satu Dari Dua Saksi A de Charge Ditolak, Begini Keterangan Anwari Selaku Saksi Ahli Bahasa

JAKARTA – Terdakwan Edwar Marpaung kembali hadirkan saksi A de Charge terkait kasus yang menjeratnya. Ia diduga telah menyebarkan fitnah dan pencemaran nama baik melalui Informasi dan Transaksi Elektronik (facebook) Ketua Umum Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Prof. Muchtar Pakpahan (MP). Terdakwa menghadirkan dua saksi pada Selasa (10/10/2017).

Pada persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur itu satu dari dua saksi yang dihadirkan ditolak. Hanya saksi ahli bahasa yang didengarkan keteranggannya.

Satu saksi yang ditolak oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) itu bernama Nova. Alasan ditolak lantaran saksi yang dihadirkan itu selalu ada hampir setiap persidangan dalam kasus tersebut di kursi pengunjung.

“Kita menolak satu saksi A de Charge yang dihadirkan karena saksi tersebut selalu mendampingi terdakwa sejak persidangan ini. Ia selalu berada di kursi pengunjung. Jadi keterangannya saya rasa tidak diperlukan,” kata Suhartini usai persidangan kepada SBSINEWS.COM

Sementara itu, satu saksi lagi yaitu bernama Anwari yang merupakan saksi ahli bahasa dari salah satu kampus ternama di Jakarta diterima karena dinilai keilmuannya dibutuhkan untuk lebih memperkaya pengetahuan terkait permasalahan yang terjadi.

Dalam keterangannya, Anwari menjelaskan satu-persatu status yang dibagikan terdakwa di media sosial tersebut.

“Tiga poin pentingnya adalah kata Menjagal, Profesor mabuk, MP dan pengacara. Meski saya tidak kenal siapa yang dimaksud dalam kalimat tersebut tapi dari semua teks yang dibagikan jelas atribusinya mengerucut kepada korban MP,” katanya.

Lebih lanjut, Anwari juga menjabarkan pandangannya dari setiap teks satu persatu. Dimulai dari dasar setiap kalimat yang memiliki Subjek, Prediakat dan Objek serta Keterangan (SPOK).

“Kalau ditanya terkait menghina atau tidak saya tidak bisa menjelaskannya karena keahlian saya mengurai berdasarkan teks. Tapi dari mata orang awam semua tulisan ini memang ditujukan oleh pembuat kalimat untuk hal negatif,” paparnya.

Lebih lanjut ia juga menjelaskan bahwa hal tersebut bisa bertujuan atau merasa menghina MP jika orang yang membuat dan membacanay berada di lingkaran Sosial korban.

“Terkait penyingkatan nama dan kalimat profesor mabuk yang disandingkan dengan kata Arogansi jelas kalimat tersebut berkonotasi negatif. Secara predikat ada tergambar muatan dendam jika yang dimaksud MP adalah nama seseorang,” paparnya.

Usai mendengarkan keterangan saksi A de Charge persidangan yang digelar di ruang Prof. Oemar Seno Adji itu dipimpin Majelis Hakim Khadwanto selaku Hakim Ketua dibantu Tirolan Nainggolan dan Popop Rizanta sebagai Hakim Anggota itu ditunda dua minggu tepatnya akan kembali digelar Selasa (24/10/2017).

Sebelumnya, terdakwa Edwar Marpaung di meja hijaukan Prof. Muchtar Pakpahan kerena pernyataan (status) pedasnya yang menyakitkan melalui media sosial facebook. Di status tersebut berkali-kali Edwar menyebut MP, Menjagal, sang profesor mabuk, dan pengacara.(rahmat)

Related posts

%d bloggers like this: