Opini SBSI 

REFORMASI INDONESIA MASIH ADA

Penulis: Andi Naja FP Paraga
Sekjen DPP SBSI

Kita sepakati dulu bahwa Reformasi hadir karena formasi kehidupan berbangsa dan bernegara di Era Suharto salah. Lalu hadirlah keinginan men-format ulang. Pertanyaannya, format mana yang mau digunakan untuk memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kelompok tertentu di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia (RI) memulainya dengan mereformasi UUD 1945 mengusung semangat tinggi, bahkan di bulan puasa sidang dilakukan secara maraton. Hal ini kemudian kita kenal dengan nama amandemen.

Reformasi berikutnya adalah Reformasi Sistem Pemerintahan antara lain :

Bagian pertama, peran MPR RI tidak lagi sebagai lembaga kekuasaan tertinggi padahal lembaga tersebut adalah wujud kekuasaan rakyat atas negara.

Kedua, Presiden tidak lagi sebagai mandataris MPR yang artinya jabatan nomor satu di negara ini tidak bertanggung jawab kepada MPR RI terhadap pengelolaan negara.

Ketiga, Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dihilangkan, itu artinya lembaga yg berkewajiban memberi nasehat kepada presiden diminta atau tidak diminta sudah tidak ada lagi, dan bisakah peran DPA tergantikan oleh Watinpres. Hal itu sepertinya tidak bisa.

Keempat, menghapuskan utusan golongan dan utusan daerah di MPR RI. Akhirnya lembaga tersebut didominasi partai politik bahkan beberapa anggota DPD RI pun dari partai politik.

Poin kelima, utusan daerah yang bisa ditunjuk langsung berdasarkan musyawarah mufakat diganti dengan DPD RI dimana seorang calon DPD wajib berkompetisi dan mengeluarkan biaya besar hanya untuk mendapatkan kursi.

Inikah yang disebut menformat ulang dan hasilnya lebih baik?

Jawabannya tentu tidak. Dahulu Buruh bisa menjadi anggota MPR RI utusan golongan tanpa harus mengeluarkan biaya ratusan juta. Cukup dipilih berdasarkan kredibilitasnya saja. Faktanya Ibu Sunarti yang pernah menjabat selaku Sekjen DPP SBSI pernah menjadi anggota MPR RI.

POLITIK = KETEGARAN

Faktanya, ketika orde baru begitu Refresif terhadap kepemimpinan Megawati Sukarno Putri selaku Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia (PDI) hal itu tidak mengurangi dukungan masyarakat terhadap PDI. Bahkan pada tahun 1997 perolehan suara PDI naik Signifikan.

Megawati Sukarnoputri dikudeta orde baru lalu diganti Suryadi. Namun gerakan Megawati dan kawan-kawan membuat PDI Perjuangan sebagai tandingan PDI berbuah konstelasi.

Hadirnya PDI Perjuangan sebagai kontestan pemilu pertama reformasi mendapatkan dukungan rakyat secara significan. Ini Bukti Konsistensi ketegaran Politik sangat dibutuhkan.

Politik adalah Ketegaran.  Di era Reformasi Asumsi bahwa Golongan Karya (Golkar) akan tumbang ternyata tidak terbukti.

Upaya menggeser Golkar dari panggung politik ternyata gagal. Ialah, Ir. Akbar Tanjung tokoh angkatan 66 yang paling berjasa mempertahankan Golkar ditambah dukungan rKyat.

Ir Akbar Tanjung dan Kawan-Kawan merubah GolkR sebagai partai piltik dengan Semboyan Golkar Baru.

Hasilnya, Golkar mendapatkan dukungan besar dari rakyat dan berhasil menempatkan Akbar Tanjung sebagai Ketua DPR RI di Era Reformasi

Bung Karno dinilai berhasil meletakkan dasar berbangsa dan bernegara karena ketegaran.

Karena itu jika menyematkan diri sebagai Sukarnois caranya adalah menegarkan diri dan prinsip dalam ilmu pengetahuan dan ajaran aturan Bung Karno.

Nah, untuk itu bersiap-siaplah tidak sekedar di penjara tetapi juga dihilangkan dalam pentas politik. Sukarno memang telah wafat dan karier politiknya turut berakhir.

Namun, ajaran Sukarno menyebar ke seluruh dunia bahkan menyemangati bangsa-bangsa Asia dan Afrika menggulung penjajah di negeri mereka masing-masing berkat ajaran BUNG KARNO.

Related posts

%d bloggers like this: