Featured Opini SBSI 

Putusan Hakim PN Jakarta Selatan Sungguh Melukai Hati Rakyat

Oleh: Jacob Ereste

Atlantika Institut Nusantara

Saya senang menerima puisi pamflet yang ditulis Imam Prasodjo untuk Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan (Jaksel) yang memutus bebas Setyo Novanto yang memgajukan gugatan pradilan atas penetapan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai terdakwa yang terlibat dalam kasus korupsi berjemaah dana E-KTP.

 

Setyo Novanto ditetapkan KPK sebagai terdakwa berdasarkan kesaksian tersangka utama kasus E-KTP. Namun praperadilannya dimenangkan oleh PN Jakarta Selatan pada Jum’at, 29 September 2017.

 

Saya langsung merekam sejumlah pendapat dan keluhan warga masyarakat yang kecewa berat. Sehingga saya menulis “Hati Rakyat Merasa Terluka Oleh Keputusan PN Jakarta Selatan yang memutus bebas Setyo Novanto dari dakwaan keterlibatan dalam Kasus E-KTP yang telah ditetapkan KPK.

 

Sedangkan Imam Prasodjo selaku akademisi dan intelektual yang sangat terhormat, pun menulis puisi pamflet yang bunyi selengkapnya seperti ini :

 

KAU SUNGGUH TERLALU

Dada ini terasa begitu mendidih
Melihat pesta pora penghianatan
Peragaan kepalsuan digelar kasat mata
Dipertontonkan begitu terbuka
Dilihat jutaan pasang mata

Kau sungguh terlalu
Jabatan agung kau permainkan
Rasa keadilan kau jauhkan
Keputusan ambigu kau bacakan
Terdengar tersendat terbata
Bodoh, dungu terlihat
Inikah pertanda kepalsuan?

Penghianatan apa lagi kau pertunjukkan
Sungguh tak tahu malu
Berani kau pegang palu
Kau ketukkan menghianati bangsamu
Kau ketukkan menghinakan dirimu
Kau ketukkan mempermalukan anak cucumu

Lihatlah dirimu
Hidupmu mendekati uzur
Tubuhmu mendekati liang kubur
Tapi adakah hati luluh mengendur
Peduli pada negeri yang hancur
Merasakan nasib mereka yang lebur

Lihatlah dirimu
Apa makna jubah kebesaranmu
Sungguh kau nistakan kehormatan
Kau jadikan penutup kepalsuan
Kau jadikan pembungkus kebusukan dan kehinaan

Kau sungguh terlalu……………

 

Demikian puisi pamflet Mas Imam Prasodjo yang lebih saya kenal sebagai akademisi dan intelektual tangguh.

Tapi kali ini Mas Imam Prasodjo menulis puisi pamflet yang juga terasa mewakili gelegak kemarahan dan kekecewaan saya yang amat dakhsyat.

 

Banten,30 September 2017

 

Related posts

%d bloggers like this: