Opini 

Refleksi Akhir Tahun 2017, Renungan Untuk Indonesia

Ditulis Oleh: Sekjen DPP SBSI
Andi Naja FP. Paraga

Indonesia mungkin memerlukan sosok seperti Dr. Ir. Soekarno dan tokoh-tokoh pendiri negara kesatuan Republik Indonesia untuk kembalimenyumbangkan pemikiran tentang bagaimana menautkan kembali suku bangsa dan Agama dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

Sosok yang sejatinya menkonkritkan kembali nilai-nilai luhur bangsa dan merumuskan secara singkat seperti lima sila yaitu Pancasila serta meletakkan Dasar Konstitusional yang kita kenal dengan Undang Undang Dasar 1945. Walaupun sederhana, tetapi telah mencakup seluruh aspek berbangsa dan bernegara.

Kerinduan ini muncul ketika selama Tahun 2017 ini justru banyak tokoh bangsa ini seolah mengabaikan nilai-nilai luhur itu. Bahkan mereka berdiri paling depan memperlihatkan golongan, kelompok bahkan Partai Politiknya.Lebih mirisnya lagi, justru mempertentangkan hal-hal yang tidak harus dipertentangkan. Pancasila sekan dicabik cabik oleh mafia politik dan hukum. Pada tahun 2017, secara sempurna menjadi tahun politik dan hukum berwajah buruk.

Para pejabat negara berebutan mendukung kandidat mereka dalam event pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), dimana seharusnya menjalankan amanat yang diemban sebagai pemimpin lembaga tinggi negara.
Pilkada pun serentak berubah dari pesta demokrasi menjadi pembantaian demokrasi.

Masyarakatpun ikut tergiring dalam fanatisme agama, pribumi dan non pribumi, hate speech, hoax hingga pada puncaknya yang memiliki aliran politik yang berbeda disematkan dengan istilah-istilah yang mengerikan seperti kafir, munafik, murtad bahkan diancam tidak disolatkan ketika meninggal Dunia. Etika politik semakin bar-bar.

Semakin miris, karena setiap saat polemik yang seharusnya bukan masalah dibesar-besarkan bahkan secara vulgar ditayangkan di media massa baik cetak, elektronik, online hingga media sosial. Indonesia seperti sedang berperang dengan sesamanya.

Pancasila dicabik-cabik oleh para mafia politik dari yang berjubah sampai yang berbusana parlente. Isu kebangkitan kembalinya Partai Komunis Indonesia (PKI) digoreng-goreng, direbus hingga mendidih menyasar Presiden Republik Indonesia bahkan pemutaran ulang Film G 30 SPKI menjadi persoalan terpanas di Tahun 2017.

Disisi lain, iklim penegakan hukum tak lepas menjadi sorotan tajam. Kasus-kasus korupsi semakin menggila hingga melibatkan banyak kalangan dan kroni. Korupsi kepala daerah beserta kroninya terhadap dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) terkuak selebar- lebarnya dan nyaris tidak ada daerah yang terlepas dari Kasus Korupsi.

Iklim penegakan hukum semakin memanas ketika dua Lembaga saling bertentangan. Pertentangan data Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dengan data yang dimiliki Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kerap terjadi.

Persoalan susul menyusul karena Pihak yang sudah menjadi tersangka KPK, malah melakukan langkah Praperadilan yang hasilnya bisa saja menguatkan keputusan KPK namun bisa membatalkan penetapan seseorang menjadi tersangka Kasus Korupsi.

Bangsa Indonesia dibuat berdebar-debar dan sambil menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kasus penyalahgunaan anggaran KTP Elektronik yang menyeret banyak pihak bahkan Setya Novanto mantan ketua DPR RI menjadi tersangka utama seperti drama panjang yang menegangkan dan menguras emosi publik.
Belum lagi masing-masing lembaga penegak hukum seperti tarik menarik kewenangan. Semua itu menjadi bagian dari tampilan wajah buruk Indonesia di Tahun 2017. Terorisme nyaris tak pernah sepi dari pemberitaan.

Ledakan bom bunuh diri di Terminal Busway, Kampung Melayu Jakarta Timur menghentak kita kembali ternyata doktrin terorisme masih ada disekitar kita. Ancaman terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat seolah tak pernah ada akhirnya walaupun kepolisian RI telah mengerahkan seluruh kekuatan dan kemampuannya menciptakan suasana kondusif.

Fakta ini jelas menunjukkan bahwa adanya ancaman bagi ideologi berbangsa, Pancasila merupakan kewajiban kita bersama untuk menghadapi ancaman, hambatan, gangguan ideologi-ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan karakter berbangsa dan bernegara di bumi leluhur ini.

Karenanya fakta-fakta dampak dari hal ini harus menjadi catatan besar menghadapi Tahun 2018 yang segera dijelang, namun secerca harapan selalu ada dan terlibat diujung Tahun 2017, peringatan Natal berlangsung sangat kidmat tidak hanya tinggi dan ketatnya pengawalan tetapi karena peran dari masyarakat dan kelompok-Kelompok tolerans yang sangat Besar.

Terakhir, mari kita optimis menjemput Tahun 2018 dengan menjadikan pengalaman-pengalaman dan peristiwa pada Tahun 2017 sebagai pelajaran berharga.

Related posts

%d bloggers like this: