Opini 

Pertempuran Dini Pilbup Jombang, Nyono Suherli Versus Mundjidah

Oleh: Siswahyu K.

Dikalangan tertentu yang dua tokoh yang paling berpengaruh dianggap terlalu dini pisahnya. Mereka adalah Wakil Bupati Jombang Mundjidah Wahab dari Bupati Jombang Nyono Suherli Wihandoko. Keputusan itu dinilai sebagai sesuatu yang disayangkan dan mengagetkan.

Untuk Pemilihan Bupati Jombang pada 27 Juni 2018, Mundjidah memilih maju sebagai Calon Bupati yang akan berpasangan dengan Sumrambah. Salah satu gambaran partai pengusung adalah Partai Demokrat dan PPP. Meskipun agak jauh sebelumnya sudah terdengar ‘rasan-rasan’ soal hal itu, namun ketika kini terjadi, tetaplah Ini dianggap masih mengagetkan.

Pasangan Mundjidah dan Sumrambah telah semakin nyata bakal diusung minimal oleh Partai Demokrat dan PPP. Pasangan Nyono Suherli dan Subaidi diusung minimal oleh Golkar, PKB, Nasdem, PKS. Lalu calon lainnya Syafiin dan Choirul Huda diusung PDIP dan Hanura. Kenapa tetap mengagetkan? Banyak sebab tentunya, namun yang paling menonjol adalah menyayangkan ‘nekadnya’ Mundjidah maju Bakal Calon Bupati.

Menurut banyak pihak, harusnya Mundjidah tetap gandeng Nyono Suherli, sehingga ‘dinasti’ Mundjidah yang sedikit banyak juga mewakili wajah Pondok Pesantren Tambakberas, pada saatnya (tahun 2023) nanti bisa lebih benar-benar menguasai, bersama-sama tiga sentral ponpes di Jombang yang lainnya.

Tiga Pusat Ponpes Ke Nyono?

Alasan lain, soal Pilbup Jombang konon tiga pusat Ponpes besar di Jombang (harusnya empat, minus Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, red.) ‘berpihak’ pada Nyono meskipun tidak secara ‘kolektif’ dan tidak secara tertulis. Tiga Ponpes itu diantaranya adalah Ponpes Tebuireng tempat Gus Dur yang juga tempat Hadratus Syekh KH.Hasyim Asy’ari (sentral pendiri NU), yang kini dipimpin KH. Solahuddin Wahid (Gus Solah) adiknya Gus Dur.

Gus Solah dinilai bersahaja dan beberapa kali kami pernah mengadakan acara bersama Gus Solah termasuk di Islami Center Bojonegoro, namun Gus Solah tak mau ketika ada amplop yang disodorkan setelah dijamu makan siang oleh Bupati Bojonegoro (Kang Yoto) di rumah dinas Bupati.

Ponpes lainnya adalah Ponpes Darul Ulum Peterongan, yang pada Pilbup Jombang 2008 pernah memunculkan Gus Mudjib sebagai Cawabup Jombang berpasangan Cabup Suharto diusung Partai Demokrat.

Meski mendapat suara paling buncit, kami sempat diminta ikut membuat publikasi kecil meski kemudian tak jelas kelanjutannya. Malah pada suatu saat kami ketemu Gus Lukman Hakim Musta’in Romly saudaranya dan menjadi akrab.

Ponpes berikutnya adalah Ponpes Denanyar yang identik dengan KH. Bisri Syansuri yang juga pendiri NU bersama KH.Hasyim Asy’ari dan KH.Wahab Chasbullah. Belum lagi jika misal Ponpesnya Kyai Tar Ploso (KH.Mukhtar Mu’thi, red.) yang kebetulan penulis sempat dekat dengan adiknya, Kyai Masruchan Mu’thi (almarhum).

Mundjidah Versus Ponakan
Persoalan lain, Mundjidah maju Cabup Jombang 2018, meskipun tidak terduga. Mundjidah juga harus ‘perang’ dengan ponakannya yang berjejaring. Padahal momen Pilbup ini harusnya bisa digunakan konsolidasi menyatukan empat sentral ponpes di Jombang tadi.

Mundjidah yang tokoh PPP, harus ‘perang’ dengan keluarga sendiri termasuk Mu’linah Sohib Ketua DPD Partai Nasdem Jombang, dimana rekomendasi Nasdem pusat mengusung Nyono Suherli. Keluarga lainnya yang harus dihadapi adalah Halim Iskandar Ketua DPW PKB Jatim dan Muhaimin Iskandar Ketua Umum DPP PKB, dimana mereka mengusung Nyono Suherli dan Subaidi, apalagi Subaidi adalah kader PKB.

Pertempuran akan seru? Banyak pihak yang pesimis, karena terlalu dini. Pendapat Anda? kirimkan ke 081259315268.

(Siswahyu K merupakanpenulis buku biografi Asmuni dan Srimulat yang pernah mendapat beasiswa Community Development di Asian Social Institute/ ASI di Manila Filipina).

Related posts

%d bloggers like this: