Opini Politik 

Menjaga Citra Pejabat Publik Kita

Ditulis oleh: Jacob Ereste
Atlantika Institut Nusantara

Kasus yang membelit Setyo Novanto yaitu dugaan terlibat kasus dana E-KTP jelas semakin memperburuk citra pejabat publik negeri ini, karena bukan hanya tidak sportif, tetapi juga tidak peduli dengan kegaduhan yang dimunculkan oleh kasus yang membuat dirinya semakin tidak bermartabat.

Himbauan Presiden Jokowi agar semus pihak tidak membuat gaduh, justru dilakukan oleh Setyo Novanto mulai dari berkelit dan berkilah dari proses pelaksanaan hukum hingga delapan kali mangkir atau mengabaikan panggilan Komisi Pemberantasan korupsi (KPK).

Sikap itu jelas tidak hanya menjadi contoh yang buruk bagi warga masyarakat dalam melakukan pembangkangan terhadap hukum, tetapi juga telah merusak rasa keadilan warga masyarakat, betapa hukum itu memang tumpul ke atas, dan tajam bahkan sangat keji bila ditebaskan ke bawah.

Kegaduhan yang dipertontonkan oleh Setyo Novanto dari kasus yang menjadikan dirinya sebagai tersangka diantara sejumlah pengentit dana E-KTP itu, sungguh menjadi contoh dari pejabat tinggi yang bobrok di negeri sekaligus menunjukkan karakter moral dan mental bagi semua orang, bahwa budaya bangsa Indonesia sudah berada pada titik nadir terendah.

Itulah sebabnya banyak orang mengakui bahwa di bumi Indonesia yang kaya raya ini semuanya ada, hanya rasa malu dan harga diri saja yang langka.

Sosok sekaliber Setyo Novanto, baik selaku Ketua Umum Parpol dan Ketua DPR RI terlepas dari cara serta bagaimana dia dapat merebutnya layak menjadi contoh dan panutan yang baik bagi warga masyarakat, baik dalam berbudaya politik maupun dalam upaya membangun citra serta karakter bangsa yang bermartabat.

Sikap berkelit dan menghindar bahkan sampai upaya melarikan diri yang dilakukan Setyo Novanto, jelas bukan sifat dan sikap kesatria yang terlanjur menjadi tontonan dunia, lokal dan nasional bahkan masyarakat internasional.

Dalam konteks kegaduhan serupa inilah kita pun sepakat dengan Presiden Jokowi, agar citra bangsa Indonesia yang kerdil jangan sampai diukur dari seorang pejabat publik yang seperti ini.

Sikap kerdil Setyo Novanto yang memilih kabur atau menghindar dari upaya penjemputan paksa oleh KPK terkait dengan pengentitan dana E-KTP yang triliunan jumlahnya itu, toh tetap harus dipertanggung jawabkan juga sampai kapanpun dalam keyakinan agama yang dianutnya. Lagian, seberapa lama sih Setyo Novanto bisa bertahan dengan rasa yang nyaman dan aman dari statusnya sebagai buronan.

Dengan penuh rasa simpatik serta segala hormat saya usul jika tidak bisa disebut saran agar Bang Setnov menyerahkan diri saja dengan baik-baik agar status DPO tak perlu menambah kegaduhan blantika politik kita yang semakin runyam. Lagian, berapa lama sih bisa bertahan hidup dengan cara petak-umpet begitu, lantaran terlanjur berstatus DPO.

Related posts

%d bloggers like this: