Opini 

MENAKAR SOLIDARITAS MENUAI SOLIDITAS

Dituli Oleh: Andi Naja FP Paraga

Sekretaris Jenderal DPP SBSI

SOLIDARITAS adalah kata yang mengikat anggota dengan anggota lainnya baik itu antar dan intra Serikat Buruh/Pekerja. Kata solidaritas ini memberi sentuhan kepada batin apalagi tatkala seorang anggota Serikat Buruh tertimpa musibah seketika yang lainnya turut merasakan penderitaan itu dan dengan ringan tangan memberikan bantuan. Namun Solidaritas nampaknya tidak sekedar persoalan musibah tetapi segala hal yang berkaitan langsung atau tidak langsung dengan persoalan perburuhan.

Sebagai serikat buruh, pihak-pihak yang berkumpul didalamnya baik pengurus dan anggota memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang sama terhadap pengaplikasian solidaritas itu.

Jika demikian artinya solidaritas bisa diartikan sebagai kewajiban sekaligus kebutuhan dari pengurus dan anggota Serikat Buruh. Sikap solidaritas tidak pandang buluh. Tidak memilih milih kepada siapa bersolidaritas dan terhadap persoalan apa.

Dengan demikian pula semua persoalan semestinya dilaksanakan dan diselesaikan dengan semangat.

Menakar wujud solidaritas dengan sederhana seperti ketika ada salah satu anggota tertimpa musibah dengan serta merta memberikan bantuan tentu bukan hal baru.

Ketika seorang buruh tertimpah persoalan perselisihan hubungan Industrial dan persoalan hukum juga bukan lagi hal baru. Itu Sudah menjadi rutinitas ketika berserikat, bahkan untuk mengatasinya ternyata tidak harus semua pengurus dan anggota hadir dan pesan sera rasa solidaritas itu telah hadir pada saat itu.

Namun ada solidaritas yang terlupakan dan nyaris tidak dipertimbangkan ketika seorang Pengurus Buruh yang hidupnya tidak berkecukupan sehingga separuh dari usia hidupnya diabdikan untuk berkhidmat kepada Serikat Buruh.

Ia bukan lagi buruh aktif dan oleh karena itu ia tidak lagi beroleh gaji. Hidupnya semata-mata bekerja untuk Serikat Buruh. Sebagai gantinya serikat buruh tersebut mengkaji alakadarnya jauh dari standar upah minimum buruh dikota Provinsi.

Gaji yang tidak seberapa itu tentu saja tidak cukup menghidupinya untuk satu bulan. Belum lagi menjadi peserta BPJS Kesehatan sementara usianya beranjak renta dan rentan terhadap penyakit. Tidak terbayang baginya sekiranya tenaga dan fikirannya tidak lagi dibutuhkan akan menghidupi dirinya seperti apa.

Ia berjauhan dengan keluarganya demi Pengabdiaannya. Tatkala yg lain tidur pulas dengan pasangannya pada malam hari ia meringkuk sendiri. Semestinya prinsip solidaritas hadir dalam suasana hidupnya yang seperti ini. Mungkin tidak sedikit para aktifis berakhir hidupnya tetap sebagai FAKIR yang MISKIN.

Sementara teman-temannya bisa menikmati hidup nyaman bahkan memiliki tempat tinggal bagus dan mobil pribadi. Kematiannya tidak menjadi berita besar apalagi memancing solidaritas yang besar. Namanya sebagai aktifis serikat buruh pun turut terkubur bersamaan dengan jasadnya dibumi.

Solidaritas yang baik dan benar adalah mengikat seorang pengurus dan anggota dalam pertalian kemanusian hingga pertalian persaudaraan. Jika solidaritas itu hanya parsial sesungguhnya bukan solidaritas.

Seharusnya, solidaritas mengikat seseorang dengan orang lain seperti Pepatah ‘apabila satu bagian tubuh sakit, maka seluruh bagian tubuh lainnya turut merasakan Sakit,’.

Jika belum seperti itu maka sesungguhnya tidak pernah hadir jiwa dan rasa solidaritas itu.

Selasa,10-10-2017

Related posts

%d bloggers like this: