Opini 

Galunggung

Ditulis Oleh: Andi Naja FP. Paraga

Dalam Kitab Naskah Sunda Kuno, Amanat Rakean Darmasiksa atau disebut Prabu Sanghyang Wisnu yang bergelar Sang Paramartha Mahapurusa (Raja Sunda,1175-1297 Masehi) atau yang disebut Amanat Galunggung Kropak 632, nama kata AGAMA sudah disebutkan “jaga rampésna agama” artinya : “Pelihara kesempurnaan agama”.

Defisinisi kata Galunggung secara etimologi berarti “Galuh Hyang Agung atau Permata Hyang Agung”. Adapun pengertian menurut istilah, Galunggung adalah “Sebuah Pemerintahan yang berdasarkan Keagamaan”.

Mengetahui definisi Galunggung tersebut di atas, mungkin pembaca dimasa sekarang akan bertanya.Pertama Agama apa? Jawabannya : “rampésna agama”(Galunggung, Kropak 632) artinya agama sempurana.

Kedua, siapa nama Tuhannya? Jawabannya: “Hyang Agung” (konsep HYANG). Ketiga, siapa Nabi atau Rasul (utusan Tuhanatau utusan Hyang) yang mengajarkannya? dan Jawabannya adalah: “Para Hyangan. Keempat, apa Kitab Suci Tuhannya atau Kitab Suci Hyangnya? Maka jawabannya: “Sastra-Jendra-Rahayu-Ning-Rat”.

Kelima, kemana arah kiblat untuk Sembahyangnya? jawabannya adalah “untuk Sembah-Hyang, tempat kiblatnya ada didalam diri. Dalam diri terdapat SangHyang Taya, tempatnya SangHyang Pananyaan dan SangHyang Carita”(Naskah Sanghyang Raga Dewata, Kode dj66.2923/[06], Naskah Serat Dewa Buda “Gunung” atau SDB Kropak 638).

Bagian keenam, bagaimana dengan banyaknya ditemukan, Lingga (Linggahyang, Lingga-Yoni), arca dewa-dewa di Tatar Sunda, Jawa Barat? jawabannya: ada didalam Naskah SDB 39r: 2—4 dan 39v: 1—2 :

39v:2,” Demikianlah bermacam keluarnya tujuan dalam impian, diwujudkan semuanya

39v.1. oleh tujuan ketika itu, dikeluarkan semuanya gambaran itu, meragakan Siwa, Buddha, Brahma, Wisnu, raksasa, pitara, ditempatkan dalam Puspalingga dan arca. Itulah sebabnya terdapat Hyang dalam tujuan dunia seluruhnya dalam waktu…” (Ayatrohaedi 1988: 176).

SDB menyatakan bahwa prana adalah indra, adalah kehidupan adalah tujuan (acuan), dan acuan hidup itu ialah Hyang (Sang Hyang Taya). Dalam lingkungan seluruh dunia selalu terdapat Hyang sebagai acuan.

Dewa-dewa Hindu dan Buddha dinyatakan hanyalah Visualisasi dari tubuh (raga) dalam mimpi, jadi semu agar menjadi konkret kemudian “ditempatkan dalam puspalingga dan arca”.

Gambaran atau Visualisasi, Symbol, Sandi RAGA adalah Puspa(Bunga)Lingga dan Arca. Apabila arah kiblat Sembah Hyang tempatnya didalam Diri (Sanghyang Taya), maka tempat arah kiblat Symbol-nya adalah dimana PuspaLingga dan Arca tersebut di Letakkan.

Adapun lokasi Gunung, Bukit, pedataran dimana pun PuspaLingga, arca, dolmen, menhir /Tunggul itu di Tempatkan, maka gunung dan bukit tersebut secara khusus disebut dengan KaBuyutan.
Dengan demikian makna KaBuyutan memiliki dua arti, pertama KaBuyutan arti Sejati adalah Diri(tempat Sembah Hyang), kedua KaBuyutan arti Ragawi adalah teritorial atau wilayah dimana Simbol Ragawi baik Puspalingga, Arca, dolmen, menhir, Tunggul atau makam tersebut ditempatkan.

Semakin bertambah dan berkembangnya aktivitas manusia, maka Kabuyutan pun menjadi pusat berbagai aktivitas sesuai fungsinya.
Dengan demikian dapat difahami bahwa Kabuyutan adalah sebuah lokasi atau tempat yang disakralkan menurut aturan, seperti: keraton atau istana raja, kabataraan sebagai lembaga kaum rama, kawikwan sebagai lembaga golongan resi, mandala sebagai lembaga pendidikan, tempat peribadatan dan keagamaan, tempat pemakaman, dan sebagainya.

Aditia Gunawan; mengutip kajian dari Ayatrohaedi : Tinjauan Napas Keagamaan Hindu-Buddha Dalam Beberapa Naskah Sunda Kuno Abad Ke-14—16 M.

“Konsepsi dan Eksistensi Gunung Berdasarkan Tradisi Naskah Sunda (Sebuah Perspektif Filologi)”

Related posts

%d bloggers like this: