Opini 

GAGASAN PARTAI BURUH ISLAM DI INDONESIA

Menyambut gagasan Partai Buruh Islam (PBI) bersama Soraya Nasution dan kawan-kawan. Menegakkan syariah Islam manjadi visi PBI dengan sigmen massa buruh sekitar 120 juta sungguh sangat ideal.

Begitu juga misi dari gerakan buruh Islam dengan mendirikan PBI dimaksudkan untuk menegakkan Syariat Islam melalui lembaga atau instansi ekstra parlementer.

Soraya Nasution memaparkan visi dan misi PBI itu dengan singkat melalui grup media sosial WhatApp Dewan Pengurus Pusat (DPP) PBI yang sudah berkibar-kibar sekitar pekan pertama Oktober 2017. Tentu saja yang tidak kalah menarik dari gagasan besar ini adalah para penggagasnya, aktivis maupun relawan yang bergabung di dalam PBI.

Pengamatan sekilas saya ini bisalah jadi. Rujukan sementara, karena potensi yang sesungguhnya ada di dalam PBI sangat mungkin lebih dahsyat dari yang dijadikan rujukan ini.

Karenanya, sebagai seorang yang sangat menaruh perhatian pada golongan rakyat kecil dan ikut aktif dalam organisasi buruh sejak awal 1990 an, bisa jadi belum cukup memadai ikut memapar carut-marut masalah perburuhan di Indonesia. Apalagi uutuk partai politik.

Masalah buruh di Indonesia yang pertama adalah belum mempunyai kesadaran dan hasrat berorganisasi, apalagi hendak diharap terlibat dalam parpol yang sedang nyungsep habis nilai kepercayaannya bagi warga masyarakat kebanyajan.

Parpol di Indonesia pada 20 tahun terakhir ini sudah kehilangan daya pikatnya, tidak hanya bagi generasi muda, tapi juga mereka yang sudah berusia dewasa dan lanjut usia, sudah tidak lagi bisa menaruhkan harapan pada parpol untuk diharapkan mampu dan mau memperjuangkan gagasan dan cita-cita serta politik rakyat.

Karena para pelaku politik itu sendiri telah kehilangan idealisme dari gairah nasionalisme kerakyatan yang patut dimiliki setiap orang Indonesia.

Fenomena dari budaya “bajing loncat” dalam khazanah budaya politik di Indonesia yang makin ngetren, jelas menunjukkan rapuhnya tatanan ideologis politik dibanding dengan pamrih kekuasaan yang meliputi harta dan wanita semata.

Sedangkan buruh dan organisasi buruh sendiri di Indonesia masih tetap dalam posisi atau juga diposisikan seperti anak haram. Dalam realitas ekonomi dan politik bahkan dalam sosioal budaya, kaum buruh itu sering diperlakukan boleh ada, dan pada waktu dan kondisi yang lain dia boleh tiada.

Intinya status dan eksistensi kaum buruh di Indonesia sampai sekarang, boleh ada dan boleh tiada. Sama dengan asal mulanya kaum buruh Indonesia yang berasal dari tradisi petani agraris kini terlunta-lunta di kawasan industri yang asing dan gersang, jauh dari suasana keramahan keluarga.

Banten, 8 Oktober 2017

Ditulis oleh: Jacob Ereste

Partisipan Aktif di SBSI dan Pembina.

Peneliti pada Atlantika Institut Nusantara dan penggagas Komunitas Buruh Indonesia.

Related posts

%d bloggers like this: