Opini 

DAMPAK TERHADAP INDUSTRI ASIA JIKA TERJADI PERANG DUNIA III

KOREA UTARA versus USA DAN SEKUTUNYA
Oleh : Andi Naja FP Paraga

Gong Masyatakat Ekonomi Asean(MEA) sudah dipukul pada 2015 namun perdagangan bebas dunia sudah berlangsung jauh sebelumnya. Jadi MEA bukan lagi hal yang mengagetkan masyarakat Asean. Jauh diwilayah perbatasan bisnis antar warga kedua negara sudah berlangsung sejak dahulu kala.

Siap atau tidak semuanya sudah dimulai. TKI sudah menjangkau tidak hanya Kawasan Asran, bahkan puluhan tahun silam sudah merambah Jazirah Arab sehingga tidak sedikit juga TKI Indonesia di Amerika dan Eropa.

Industri ketenagakerjaan terus berubah dari zaman ke zaman menyesuaikan diri dengan Perkembangan Teknologi. Industri lama digantikan yang baru dan menggerus kebijakan lama. Buruh yang tidak meningkat SDM akan kehilangan kesempatan kompetisi. Jika pemerintah dan pengusaha terlambat mengantisipasi efek perubahan dan kemajuan tekhnologi terhadap buruh – pekerja akan menimbulkan dampak pengangguran yang Masif.

Sementara itu industri persenjataan semakin berkembang pesat termasuk di Asis. Iran dan Korea Utara terus melakukan revolusi persenjataan yang mencengangkan. Untuk Iran yang memiliki gesekan terkecil dengan negara lain industri persenjataan mereka tidaklah membawa kecemasan bagi warga dunia.

Tapi lain halnya dengan Korea Utara yang telah memiliki gesekan tajam dengan Korea Selatan sebagai negara tetangganya dan hal ini tentu memperluas gesekan kepada negara-negara Sekutu Korea Selatan seperti Amerika Serikat.

Apakah yang terjadi jika gesekan demi gesekan tak bisa diredam, jawabannya mungkin Perang. Perang Korea pastilah berlangsung di Semenanjung Korea saja, hanya saja dampaknya meluas ke seluruh Asia termasuk Asia Tenggara dan tentu saja seluruh negara anggota ASEAN termasuk Indonesia akan mendapatkan dampak serius dari peperangan tersebut.

Dampak serius ketika petang itu terjadi tidaklah berbeda dengan dampak perang lainnya dibelahan dunia manapun. Suasana petang yang mencekam tidak mungkin menciptakan iklim industri yang sehat. Pasti akan ada suasana kerja yang tidak kondusif dan tentu industri akan merugi. Khayalan mendapatkan Pekerjaan dan upah yang layak pada suasana seperti itu adalah khayalan yang tidak mungkin terpenuhi, bahkan mimpi pun bisa lebih mencekam daripada kenyataan yang seharusnya. Perang tidak menguntungkan bagi Industri lain selain industri persenjataan bahkan bisa mengancur-leburkan industri lainnya.

Namun belakangan ini kita tidak melihat lembaga dunia sibuk mencari solusi pra perang Korea ini. Mereka bahkan tidak terlalu sibuk terhadap dampak dari gesekan sesama warga Thailand dimana Indonesia juga menjadi negara penampung terbanyak pengungsi Rohingya setelah Bangladesh. Tidak terlihat upaya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melakukan langkah persuasif sekaligus antisipatif.

Pemimpin negara-negara Asia tak nampak melakukan upaya yang berarti bahkan termasuk pemimpin-pemimpin negara ASEAN walaupun ancaman sudah didepan mata.

Lantas bagaimana dengan pemimpin Indonesia. Justru inilah persoalan yang nyaris tak pernah dibicarakan baik di DPR RI dan boleh jadi di rapat-rapat Kabinet Pemerintahan saat ini.

Bisa jadi Menkopolhukam terlalu disibukkan oleh isu politik dalam negeri belakangan ini dengan berbagai ragam persoalannya. Persoalan perlengkapan senjata Brimob saja sudah cukup menyita waktu Petinggi Tni-Polri, belum lagi Isu kebangkitan PKI telah menghabiskan energi. Jadi kapan mereka berbicara dampak perang Korea sekiranya sudah tidak bisa diantisipasi.

Karena itu kita serikat buruh perlu mengingatkan pemerintah dan yang lainnya segera melakukan pembicaraan khusus terkait perang Korea ini karena jika tidak ada upaya antisipasi pastilah dampak sosialnya termasuk terhadap industri dan dunia kerja di Tanah Air sangat besar. Sekiranya hal ini tidak menjadi kekhawatiran bersama maka peran insting sosial kita selaku pekerja sosial dan aktifis perburuhan sangat mengkhawatirkan.

Related posts

%d bloggers like this: