Kongres SBSI 2018 

Garis-Garis Besar Haluan Organisasi (GBHO) Dan Resolusi-Resolusi

Posisi SBSI dalam Globalisasi Ekonomi terutama menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean(MEA).

 

  • Kawasan Asia Tenggara sudah menjadi salah satu Kawasan Ekonomi dan Industri Dunia setelah Amerika dan Eropa. Hadirnya Indonesia dalam Sidang-sidang Negara G-20 tentulah karena Indonesia diperhitungkan dari Aspek Ekonomi dan Industri disamping Negeri kita memiliki Sumber bahan baku Ekonomi dan Industri Dunia namun terjadinya Bonus Demografi (Jumlah Penduduk yang besar) sekaligus menjadi Modal Dasar Pertumbuhan dan Perkembangan Ekonomi dan Industri sekaligus menjadi Pasar Besar di ASEAN mengalahkan Anggota Negara ASEAN lainnya. Dalam Kondisi sepertinya harusnya Kesejahteraan Buruh/Pekerja sebangun dengan perkembangan ini. Namun, fakta lain kesejahteraan Para Penerima upah ini terendah di ASEAN konon lagi di ASIA. Serikat Buruh/Pekerja sulit mendapatkan tempat Sejajar dengan Para Pemodal/Investor demi memperjuangkan Kesejahteraan Ideal anggotanya.

 

  • Posisi Serikat Buruh/Pekerja seperti tidak menemukan Bergaining Position (Posisi Tawar) tidak pada posisi yang berimbang termasuk diantaranya Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI). Investor/Pemodal bahkan nyaris memiliki posisi tawar diatas Pemerintah. Bahkan Negara Investor/Pemodal tidak hanya mampu mengatur regulasi Sistem Ekonomi dan Industri bahkan mendikte kebijakan Ekonomi Nasional.

 

  • SBSI berada pada posisi dilematis karena salah satu penunjang kekuatan Serikat Buruh/Pekerja ketika memiliki anggota yang banyak,sementara SBSI belum memiliki anggota significant karena Buruh/Pekerja yang bergabung di SBSI hingga Jelang Kongres SBSI Ke-6 belum memenuhi target Kongres V SBSI 2014.

 

  • Ketika Kondisi masih “Menjadi Kawan tidak terasa,menjadi musuh tidak ditakuti” maka Peran SBSI dan Buruh belum bisa menjadi Dinamisator Ekonomi dan Industri yang terus bergerak di Era Masyarakat Ekonomi Asean(MEA) apalagi menghadapi derasnya arus globalisasi dunia ketenagakerjaan. Investasi RRC pada sejumlah Infrastruktur di Tanah Air memastikan berlangsungnya persaingan ketat ketika Buruh Indonesia ingin menjadi bagian dari proses pembangunan Infrastruktur tersebut. Kebijakan Investor RRC membawa Pekerjanya dimana Investasinya sedang berlangsung dalam jumlah Massive adalah Persoalan yang tidak sederhana karena berdampak pada tidak terakomodirnya angkatan Kerja(Buruh/Pekerja) dalam Negeri.

 

  • MEA sudah berjalan 3 Tahun lebih tentu saja memberi dampak Positif dan Negatif  bagi Indonesia. Kita menjadi pesaing bagi Bangsa ASEAN lainnya di Negeri kita sendiri baik dari sisi persaingan kualitas maupun persaingan lainnya. Tentu saja SBSI mendorong Pemerintah untuk meningkatkan kwalitas Pendidikan dan Keterampilan Buruh/Pekerja Indonesia yang nampaknya belum terlihat upaya konkrit dan maksimal. SBSI sebaiknya kembali mengambil peran-peran memperbaiki Konstitusi yang merugikan.Buruh Indonesia di era persaingan yang ketat dan keras ini dengan memberikan konsep dan strategi kebijakan Ketenagakerjaan kepada Pemerintah, DPR dan DPD RI maka demikian SBSI telah menempatkan dirinya pada Posisi Konstitusional tanpa harus berangkat dari besar atau kecilnya Anggota SBSI saat ini.

 

 

SC Kongres VI SBSI 2018

 

Andi Naja FP Pataga
Anggota Komisi B

Related posts

%d bloggers like this: