Kenangan Dengan Jokowi Bagian Kelima

Oleh: Muchtar Pakpahan

Publik (terutama Ahoker sampai) sekarang masih memahami, bahwa istana mendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta 2017 – 2022. Saya menyampaikan fakta lain sebagai berikut:  Pertama; sejak awal 2016 berlangsung berbagai demonstrasi di KPK, di Kepolisian dan di Kejaksaan yang mendesak agar Ahok ditangkap karena melakukan korupsi atas pembelian lahan seluas 3,6 ha untuk Rumah Sakit Sumber Waras dan reklamasi atas kepulauan seribu. Serangan ini dimaksudkan mengggagalkan Ahok dari pencalonan Gubernur DKI Jakarta periode 2017 – 2022. Hal ini tidak mendapat pembelaan dari istana.

Kedua: media online Sindonews.com pada 23 Juni  2016  memberitakan pernyataan Ahok. Pernyataan tersebut yaitu  “Tanpa Pengembang Jokowi Tidak bisa Menjadi Presiden”.  Hal ini Masih bisa dilihat di google tanggal 28 Agustus 2018.

Ketiga: Malam hari pada 24 Juni 2016, Ahok mendadak dipanggil Presiden Joko Widodo ke istana. Padahal waktu itu sedang memimpin Rapat Pengupahan DKI Jakarta.  Media mempertanyakan apa komentar presiden tentang pernyataan Ahok “Tanpa Pengembang Jokowi Tidak Bisa Menjadi Presiden”, Ahok tidak menjawab. Viva.com, bisa diunduh di google tanggal 28 Agustus 2018.

Keempat: Dalam pertemuan Jokowi dengan enam Relawan di istana, Ketua Umum Seknas Jokowi Muhammad Yamin mengungkapkan “Presiden Jokowi sama sekali tidak bicara tentang dukungan terhadap Ahok”. Bisnis.com, bisa diunduh di google tanggal 28 Agustus 2018.

Kelima: Pada 28 Juli Wiranto dilantik menjadi Menko Polhukam. Kebijakan presiden Jokowi ini mendapat reakasi keras Feri Kusuma dari Kontras. “Jokowi punya janji yang dia sampaikan kepada rakyat, tapi janji itu di khianati dengan menunjuk Wiranto sebagai Menko Polhukam”. Kompas.com, bisa diunduh di google 28 Agustus 2018. Fakta tambahan, pada saat reformasi berlangsung, Panglima ABRI (sekarang TNI) Jenderal Wiranto memelihara FPI dan mempergunakannya sebagai Pamswakarta untuk menghadapi demonstrasi aktivis mahasiswa dan SBSI, dengan issue menghadang pertumbuhan PKI. Pamswakarsa  dikawal ABRI sepanjang jalan sudirman dan Gatot Subroto dengan senjata bambu runcing. Banyak korban pada 1998 – 1999.

Keenam: Segera sesudah Wiranto menjadi Menko Polhukam,  terasa ada perubahan atmosfir politik, FPI mengibarkan bendera seluas-luasnya, selebar-lebarnya dan setinggi-tingginya. Dengan issue utama yang dimainkan yaitu mengalahkan Ahok pada pilkada 2017. Puncaknya peristiwa 212, yang drama ahir, Jumat 2 Desember 2016 tersebut, ada 4 tokoh berdiri di depan ummat menyerukan “pulanglah dengan damai”, mereka secara berurutan adalah : Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden  Jusuf Kalla, Menko Polhukam Jenderal Purn Wiranto, dan Pemimpin aksi Habib Riziek. Fakta tambahan, sebelum Wiranto menjadi Menko Polhukam, FPI dapat dibungkam oleh Ahok.

Ketujuh: Ahok dengan super cepat menjadi Tersangka dan Terpidana. Saya sebagai ahli hukum berpendapat bahwa proses pengadilan buat Ahok adalah unfairly trial process.

Kedelapan: Istana Wakil Presiden (baca: Wakil Presiden Jusuf Kalla) mengambil inisiatif mencalonkan Anies Baswedan menjadi calon Gubernur DKI yang kemudian didampingi Sandiaga Uno menjadi Calon Wakil Gubernur. Ahok Kalah dalam pilkada DKI Jakarta.

Sekarang saya menyampaikan pendapat  atas fakta di atas. Kesimpulan saya, istana aktif mengalahkan Ahok yang dilakukan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menko Polhukam Jenderal purn Wiranto serta atas sepengetahuan Presiden Joko Widodo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here