Padang – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengaku dalam mensosialisasikan pentingnya imunisasi bagi anak dilapangan masih belum diterima masyarakat secara keseluruhan. Alasannya karena ada isu bahwa vaksin itu haram.

“Padahal dampak bagi anak yang tidak mengikuti imunisasi akan menimbulkan penyakit campak dan rubella” kata Ketua IDAI wilayah Sumatera Barat, (Sumbar) Didik Harianto, pada seminar dan pelantikan Advokasi serta kampanye imunisasi Measles Rubella (MR) fase II dan Surveilans, Senin, (23/7/2018).

Di Sumbar kata Didik sudah mempunyai 85 orang dokter spesialis hampir disemua daerah, termasuk di Kepulauan Mentawai. Bahkan disatu Kabupaten sudah ada yang punya dua dokter spesialis anak.

“Sebanyak 85 dokter itu kalau dibandingkan dengan¬† jumlah penduduk di Sumbar mungkin kurang. Tapi IDAI tidak punya batas untuk di daerah, berapa yang dibutuhkan saja,” kata dia.

BACA JUGA: http://sbsinews.com/ketua-knpi-dumai-dan-pengurus-mengucapkan-selamat-milad-knpi-ke_45/

Sementara Wakil Gubernur Nasrul Abit mengatakan strategi Pemerintahan Provinsi untuk mengurangi dampak campak dan rubella yaitu melalui Dinas Kesehatan dengan cara mensosialisasikan dan promosi penyuluhan kesehatan.

Karena untuk saat ini di Sumbar cakupan di pemprov baru 81,4 persen, sementara cakupan nasional 92 persen.

“Jadi ini promosi kesehatan yang kita lakukan kepada level dokter puskesmas yang tidak begitu paham tentang hal demikian. Agar tidak terkena penyakit. Insyaallah di 2019 upaya kita itu tercapai,” kata Nasrul Abit.(Esa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here