Kenangan Muchtar Pakpahan Dengan Jokowi Bagian Ketiga

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah dua  periode  menjabat presiden RI, 2004 – 2009 dan 2009-2014. Karena itu tidak dapat lagi mencalonkan diri ataupun dicalonkan menjadi Presiden RI. Terjadilah beberapa kali diskusi informal di berbagai tempat mencari calon presiden. Tentu saya sebagai aktivis dan Ketua Umum DPP SBSI membutuhkan presiden dari dua hal yakni:  NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dan Kesejahteraan rakyat/buruh.

Dari syarat NKRI, buruh mencari calon Presiden yang setia kepada Pancasila dan UUD 1945, dan memiliki komitmen menjaga dan memperkuat NKRI dan Bhinneka tunggal ika. Sedapat mungkin memiliki idiologi atau kedekatan dengan nasionalis, marhaenis, dan sukarnois.

Dari syarat kedua kesejahteraan buruh, SBSI meyakini Joko Widodo memiliki komitmen mewujudkan cita-cita Sukarno memerdekakan Indonesia welfarestate, mencabut outsourcing, buruh kontrak dan gampang PHK dari sistem hubungan industrial Indonesia, dan secara khusus kalau bersedia menghadirkan sistem hubungan industrial gotong-royong meniru model Jepang.

Dari pembicaraan di internal SBSI serta beberapa kali diskusi dengan Bapak Sabam Sirait salah seorang inisiator berdirinya SBSI dan juga salah seorang deklarator SBSI serta dua kali diskusi dengan almarhum Taufik Kiemas waktu itu Ketua MPR-RI,  mengkerucut ke satu nama yakni Joko Widodo yang waktu itu sedang menjabat Gubernur DKI Jakarta. Ada lima inisiator berdirinya SBSI yakni : Muchtar Pakpahan, Sukowaluyo Mintorahardjo, Sabam Sirait, KH. Abdurrahman Wahid (GusDur), dan Rachmawaty Sukarnoputri. Sedangkan deklarator ada 107 orang termasuk inisiator kecuali Racmawaty Sukarnoputri tidak hadir.

Mengapa mengkerucut kepada Joko Widodo? Secara idiologi klop sama, beliau mengaku Nasionalis, Marhaenis dan Sukarnois. Berarti sudah pasti mencintai NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika berdasarkan  Pancasila  dan UUD 1945. Kedua, dekat dengan rakyat bawah, dan mampu menghadirkan hal-hal yang menakjubkan walaupun baru menjelang dua tahun menjadi Gubernur DKI. Hal-hal yang menakjubkan itu adalah pelayanan aparatur sipil di DKI sampai ke kelurahan menjadi humanis. Akar kesemrawutan lalulintas Jakarta di Tanah Abang, Senen, Pasar minggu menjadi lancar. Menertibkan daerah yang bau pesing dan semrawut menjadi indah dan tempat rekreasi (seperti Grogol, pluit, bypass seberang gudang garam – Danau Riario dll), semua kali ditata menjadi indah, dan suka blusukan mendengar keluhan rakyat.

Dengan fakta tersebut, pembicaraan di lingkungan SBSI sepakat resmi memajukan Joko Widodo menjadi calon presiden RI untuk periode 2014-2019. Itulah yang membuat SBSI ikut memprakarsai deklarasi Calon Presiden Joko Widodo di Semarang 13 Mei 2013, dan membentuk wadah bersama yang diberi nama Barisan Relawan Jokowi for President disingkat BaraJP pada 17/07/2013, diketuai Sihol Manullang. Deklarasi itu dihadiri ratusan orang, termasuk aktor Roy Martin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here