Opini 

Damai Natal

Al Masih dilahirkan untuk misi besar yaitu “Damai”. Ia Seorang diri memulainya tanpa lelah siang dan malam demi kedamaian walaupun ia harus menerima kenyataan bahwa pada akhirnya beliau tetap sendiri. Seperti pengembala Ia tak ingin satupun gembalaannya terlantar dan tersesat,Ia selalu memastikan gembalaannya telah dalam lindungannya sebelum beliau merebahkan kepada pemilik Alam Semesta.

Damai bagi beliau adalah memastikan tiada yang terlantar dan tersesat. Al Masih melayani sepenuh jiwa tanpa bertanya status Sosial. Seperti bundanya yang mulia Al Masih dapat menyembuhkan penyakit sementara disaat yang sama disana sini berlimpah jumlah orang Sakit. Al Masih menyembuhkannya.

Damai bagi beliau adalah menyembuhkan. Seperti bundanya yang agung beliau selalu memberi makan fakir miskin bahkan demi mereka Ia hadirkan makanan langit. Beliau mendahulukan fakir miskin, beliau Melayani.

Damai bagi Ia adalah melayani. Natal awalnya hanya ditunggu oleh bundanya tercinta dan Elizabeth bersama Zakariah sang nabi. Namun kelahirannya ternyata ditunggui oleh banyak pembaca Taurat dan Zabur.

Maka ketika kelahirannya tersambut oleh kemilaunya alam semesta maka para pembaca Taurat dan Zabur menatap langit dan berkata : telah lahir Al Masih, telah lahir Al Masih, telah lahir Al Masih salam bagimu duhai putra terbaik Keturunan terbaik. Salam bagimu yang memberi damai tanpa sarat

“Selamat Natal” damai di langit semoga damai pula di bumi. Hormat kami Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pengurus Pusat (DPP), Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Andi Naja FP. Paraga.

Related posts

%d bloggers like this: