Buruh Opini 

Usut Tuntas Penganiaan Aktivis Lingkungan; Menteri Luhut Bilang Akan Tegur Kapolri, Kadiv Propam Bilang Tidak Main-Main

Hingga saat ini belum jelas kelanjutan pengusutan kasus penganiayaan dua orang aktivis lingkungan di Kawasan Danau Toba (KDT), Samosir Sumatera Utara.

 

Pihak Kepolisian Republik Indonesia didesak melakukan pengusutan terhadap dua orang aktivis bernama Jhohannes Marbun dan Sebastian Hutabarat, yang diduga dilakukan oleh segerombolan preman bayaran dari pemilik tambang galian C di Desa Silimalombu, Samosir, yang merupakan kakak kandung Bupati Samosir.

 

Ketua Tim Advokasi Penyelamat Danau Toba (Tapdatu) Sandi Ebenezer Situngkir menyampaikan, pihaknya sudah mendesak aparat kepolisian di Sumatera Utara dan di Jakarta agar tidak berdiam diri atas kasus itu.

 

Menurut Sandi, sejak terjadi penganiayaan dan pemukulan pada bulan Agustus 2017 lalu, pihak kepolisian malah seperti tidak mau tahu, dan malah mencoba menutupi kasus penganiayaan yang mencoreng wajah Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian itu.

 

“Kejadiannya sudah sejak Agustus lalu, yakni Selasa (15/08/2017), tetapi sampai sekarang tidak kelihatan ada upaya pengusutan serius dari Kepolisian. Padahal, saat-saat sekarang ini, bulan lalu semua petinggi Kapolisian, seperti Kapolri, Kapoldasu, Kadiv Propam Mabes Polri mengunjungi Sumatera Utara. Bahkan, kemarin Menko Kemaritiman Bapak Luhut Binsar Panjaitan pun kunjungan ke sana. Tohk, tampak tak ada perkembangan pengusutan kasus itu,” tutur Sandi Ebenezer Situngkir, di Jakarta, Senin (11/09/2017).

 

Dia mengatakan, masyarakat di Kawasan Danau Toba (KDT) dan di perantauan akan mendesak agar persoalan ini diusut sampai tuntas. Menurut Sandi, aparat Kepolisian jangan sampai masuk angin hanya karena ada dugaan keterlibatan saudara kandung Bupati Samosir dalam penganiayaan yang terjadi itu.

 

“Hukum harus ditegakkan. Usut tuntas, ngapain gentar dengan Bupati kalau memang dia atau ada anggota keluarganya ada yang salah dan terlibat, ya tegakkan dong hukum, berikan sanksi tegas. Jangan malah kepolisian yang loyo,” ujar Sandi.

 

Di sela kunjungannya ke Sumatera Utara, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menyampaikan bahwa dirinya sendiri akan mempertanyakan keberlanjutan pengusutan kasus penganiayaan aktivis lingkungan hidup di KDT itu ke Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian.
“Itu harus diusut tuntas. Saya akan minta kepada Pak Kapolda agar itu segera dituntaskan juga. Ingatkan saya lagi nanti supaya saya bisa menanyakan lagi (ke Kapolda dan Kapolri). Itu harus diusut tuntas,” ujar Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, di Kawasan Kampus DEL, Tobasa, Minggu (10/09/2017).

 

Secara terpisah, Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Kadiv Propam Mabes Polri) Irjen Pol Martuani Sormin menyatakan bahwa pihaknya tidak akan main-main dalam melakukan pengusutan kasus penganiayaan aktivis itu.

 

“Saya sudah ingatkan juga kepada Kapolres Samosir agar tidak bermain-main mengusut kasus itu. Harus tuntas. Ini pasti saya awasi pengusutannya oleh anggota kita,” ujar Irjen Pol Martuani Sormin.

 

Kepala Kepolisian Resor(Kapolres)Samosir AKBP Donald Simanjuntak menyampaikan bahwa pihaknya sedang melakukan pengusutan. Bahkan, menurut Kapolres Samosir, si pelaku penganiayaan yang diketahui bernama Jautir Simbolon, yang adalah abang kandung dari Bupati Samosir Rapidin Simbolon, telah dilakukan upaya penahanan.

 

“Polres Samosir sudah mengeluarkan surat penangkapan dan penahanan terhadap Jautir Simbolon pada tanggl 6 September 2017 lalu,” ujar Kapolres Samosir AKBP Donald Simanjuntak.

 

Dia menjelaskan, si pelaku yakni Jautir Simbolon menyerahkan diri ke Kepolisian pada 7 September 2017. “Namun Isterinya, pada tanggal 8 September 2017 mengajukan penangguhan penahanan,” ujar kapolres.

 

Dia berjanji akan mengusut tuntas kasus ini. “Semua ada prosesnya. Kami sedang memroses,” pungkasnya.

 

Sebelumnya, pada Selasa 15 Agustus 2017, dua orang aktivis lingkungan hidup dari Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) yakni Jhohannes Marbun alias Joe dan Sebastian Hutabarat mengalami penganiayaan oleh sekelompok orang di lokasi tambang Galian C, milik Jautir Simbolon di Desa Silimalombu, Kabupaten Samosir.

 

Keduanya mengalami penganiayaan yang disuruh oleh Jautir Simbolon, sebab pada saat itu, kedua aktivis bersama Jautir Simbolon dan para penjaganya sedang berbincang-bincang di lokasi tambang galian C itu.

 

Dikarenakan salah seorang aktivis Sebastian Hutabarat mempertanyakan kerusakan lingkungan dengan hadirnya tambang galian C itu, Jautir Simbolon marah dan memerintahkan para penjaganya melakukan penganiayaan dan pemukulan terhadap kedua orang aktivis yang sedang berada di hadapannya itu. Sejak kejadian itu, pengusutan kasus ini belum tuntas.(Roy)

Related posts

%d bloggers like this: