Buruh SBSI 

Suara Honorer

Ditulis Oleh: Yolis Syalala

Assalamu’alaikum,

Salam sejahtera, tetaplah berpelukan dalam perbedaan, jangan lelah mencintai Indonesia dan jangan jadikan perbedaan sebagai bibit perpecahan tapi jadikan keberagaman sebagai modal kekuatan untuk kita, bahwa dengan Bhineka kita Tunggal Ika. Merdeka.

Mengutip, “Secara prinsip Serikat Buruh (SB) harus independen dari politik. Namun, kenyataannya semua dasar dan wujud kehidupan buruh ditentukan politik,” begitu ujar Prof Muchtar Pakpahan dalam pernyataanya.

Saya tertarik lalu diskusi melalui media WhatsApp. Saya katakan padanya, Prof tidak hanya buruh yang ditentukan oleh Politik, tapi kaum sayapun (honorer) juga ditentukan oleh kebijakan Politik,” dan beliau mengamini pendapat saya itu.

Hanya saja beliau menyayangkan kenapa organisasi Honorer yang ada saat ini terkesan mengedepankan ego sektoral saja. Mari kita renungi kembali nasihat beliau, hal ini masuk akal jika kita melihat realita yang ada di depan mata, semisal Honorer K2 mengklaim paling layak dan begitupun organisasi lainnya.

Namun pada kenyataannya tidak ada satu golongan Honorer yang paling layak mengklaim demikian mengingat janji revisi hanyalah sekedar janji, sudah 1 tahun hal tersebut digulirkan, tapi pada kenyataannya masih titik-titik.

Saudara Honorer sebangsa dan setanah air, dalam kesempatan ini izinkan saya bertanya,

Apa yang kita banggakan dengan organisasi Honorer yang ada saat ini?

Apakah organisasi itu sudah memayungi kita?

Apakah organisasi honorer nasional yang ada saat ini memberikan pendampingan?

Sampai saat ini saya tidak melihat itu, ada banyak honorer kena putus mitra atau rasionalisasi atau bahasa sehari-harinya kena pecat.

Mereka tetap dipecat dan mati sendirian. Jadi jangan heran jika ada intruksi ajakan untuk mogok kawan-kawan didaerah enggan melakukan. Sebab jika ada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang menanggung itu semua adalah individu yang bersangkutan.

Sejauh ini saya baru melihat organisasi buruh Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Ketum Prof Muchtar Pakpahan yang mau dan rela memperjuangan individu honorer yang bermasalah sampai pada perlawanan ke tingkat pengadilan.

Nah, saya rasa hal itu perlu dipertimbangkan bagi khalayak honorer, sebab percuma kita berserikat dan memberikan iuran bulanan jika hak-hak kita sebagai anggota organisasi itu tidak jelas.

Kekhawatiran saya ini cukup beralasan, sebab dalam organisasi ada hak dan kewajiban. Mengingat position honorer itu lemah dalam UU ASN saat ini, nasib buruk bisa setiap saat menimpa kita, dipecat, diperlakukan tidak adil dan lain-lain.

Kesimpulan dan penutup,Sodaraku mulai saat ini jangan hanya asal berserikat kalau bukan untuk kemerdekaan 100%, kalau berserikat hanya karena syahwat CPNS saya pastikan itu salah besar, sebab semua organisasi honorer yang ada saat ini goalnya adalah ingin CPNS.

Tapi harus diingat kita juga harus berserikat untuk memayungi diri kita dari mall administrasi yang dilakukan oleh pemerintah seperti yang saya sebutkan di atas. Sudah banyak korban di pihak kita, sampai kapan ini terus kita biarkan?

“Waraslah sebelum luka kian mengangah”

Related posts

%d bloggers like this: