Buruh Opini 

Serikat Buruh Harus Menyatu Dengan Masyarakat

Organisasi Buruh berupa Serikat Buruh/Serikat Pekerja di Indonesia, diingatkan untuk kembali pada hakekatnya sebagai organisasi yang menyatu dengan masyarakat.

Selain harus menjadi jembatan penghubung yang baik bagi dunia industri, Serikat Buruh/Serikat Pekerja juga memiliki tanggung jawab bagi masyarakatnya (Civil Society).

Sekjen Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) Timboel Siregar menyampaikan, sebagaimana pidato Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (Sekjen PBB) Antoinio Guterres baru-baru ini, sebagai mana dikutip oleh Direktur pada Departemen Internasional ICFTU (International Confederation of Free Trade Union) Jim Baker, yang mengingatkan tugas dan tanggung jawab SB?SP bagi industri dan juga masyarakatnya.

“Trade unions: A bridge between industry and civil society. Trade unions have a dual role. Trade unions have a foot in industry and a foot in civil society.” (Trade Unions and Social Dialogue : The global dimension, Jim Baker, Director of Department International ICFTU).

“Demikian kalimat yang disampaikan Sekjen PBB beberapa waktu yg lalu, seperti yang dikutif Jim Baker dalam tulisannya. Menjadi jembatan bagi dunia industri dan masyarakat adalah peran yang sangat penting dan strategis bagi SP/SB,” ujar Timboel Siregar, di Jakarta, Senin (15/05/2017).

Paling tidak, menurut dia, dengan pernyataan Sekjen PBB itu, SP/SB dimotivasi untuk tidak hanya eksis di industri saja, tetapi juga bisa eksis di masyarakat.

“SP/SB didorong mampu membangun dimensi kultural di tengah-tengah masyarakat sehingga bisa memainkan peran itu,” kata dia.

Namun demikian, pertanyaan mendasar bagi setiap SB?SP di Indonesia, menurut Timboel, apakah SP/SB saat ini sudah mengetahui dua peran tersebut? Apakah SP/SB telah atau sedang atau akan membangun dimensi kultural di tengah masyarakat, sehingga mampu menjadi jembatan bagi industri dan masyarakat? Atau memang tidak sama sekali? Apakah habitat SP/SB hanya dipersepsi sebatas lokasi kerja di industri semata?

Saat ini, menurut Timboel, SB/SB hanya mengukuhkan habitatnya di industri saja. Kohesi sosial yang seharusnya dibangun di tengah masyarakat belum menjadi fokus dalam merancang program-program kerjanya. “SP/SB masih membuat jarak dengan masyarakat,” ujarnya.

Anggota SP/SB, lanjut dia, adalah bagian utuh dari masyarakat. Membangun anggota SP/SB hanya sebatas di habitat industri adalah baik, namun adalah lebih baik juga bila SP/SB membangun anggotanya di tengah masyarakat.

“Jangan hanya ajarkan anggota kita tahu mengenai hukum perburuhan, K3, atau meningkatkan skill pekerjaannya, tetapi lebih dari itu ajarkan juga anggota kita menceritakan nilai-nilai baik SP/SB kepada masyarakat, bicaralah pada masyarakat sekitar dan coba penuhi kebutuhan mereka. SP SB harus memiliki nilai-nilai Trade Union Social Responsibility,” ujarnya.

Saatnya SP/SB membangun diri di tengah masyarakat sehingga mampu menjadi jembatan bagi industri dan masyarakat.(Roy)

Related posts

%d bloggers like this: