Buruh SBSI 

Diduga Menggelapkan Uang Ganti Rugi 168 Karyawan, SMT Ditahan Polisi

Serang, SBSINews – Diduga telah menggelapkan uang ganti rugi (kompensasi) untuk 168 karyawan di PT. Unican, Kordinator Wilayah (Korwil) Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) Provinsi Banten berinisial SMT (47) ditahan penyidik Satuan Reskrim Polres Serang, Selasa (7/11/).

Dilansir dari poskotanews.com, Warga Perumahan Cikande Permai, Desa Situ Terate, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang itu ditahan lantaran dilaporkan menggelapkan uang karyawan yang di PHK senilai Rp1,5 miliar.

“Tersangka dilakukan penahanan sesuai dengan bukti-bukti yang sudah kita dapatkan,” ungkap Kepala Satuan Reskrim Polres Serang, AKP Gogo Galesung.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Umum (Ketum) Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Prof. Muchtar Pakpahan menilai bahwa hal yang dilakukan SMT tersebut termasuk lima (5) kejahatan yang tak boleh dilakukan serikat buruh manapun.

Kepada SBSINews, Jumat (17/11) pria yang juga guru besar di Universitas Kristen Indonesia (UKI) itu bercerita bahwa beberapa tahun belakangan ini ia sering mendapat laporan bahwa pengurus KSBSI banyak melakukan lima kejahatan buru.

“Saat menjadi MPO di KSBSI saya melihat hal itu sering terjadi, sebagai pejuang buruh saya gagal memperbaiki hal tersebut karena kejahatan itu dilakukan hampir merata. Hal demikianlah yang menjadi salah satu alasan saya keluar dari organisasi itu dan mendirikan SBSI keaslinya,” katanya.

Lebih lanjut, MP menjelaskan bahwa lima kejahatan yang sangat dilarang dalam serikat buruh itu adalah menyetujui PHK, menggelapkan uang organisasi atau anggota, menyuaran hal berbeda dengan kepentingan buruh, menelantarkan kasus anggota yang tengah berperkara serta mewakili anggota bermasalah tanpa kordonisasi dengan yang bermasalah.

“Saya gagal memperbaiki KSBSI karena SDM nya, apa yang terjadi sekarang ini adalah fenomena. Baru-baru ini kejahatan juga dilakukan di Jakarta yang mana pengurus menyetujui PHK,” paparnya.

Kasus dugaan penipuan dan penggelapan tersebut berawal dari laporkan perwakilan PT USA, Abdul Rachim Ismail yang dalam keterangannya mengatakan telah terjadi kasus tipu gelap pada tahun 2004.

“Pihak PT USA, melakukan pengurangan tenaga kerja sebanyak 168 karyawannya dan kemudian memberikan uang kompensasi sebesar Rp1,5 miliar untuk karyawan yang terkena PHK,” jelasnya.

Uang kompensasi tersebut dikirimkan pihak perusahaan kepada SMT dalam 3 tahap pengiriman melalui transfer ke rekening masing-masing sebesar Rp500 juta.

Tersangka SMT mengakui jika pemberian uang kompensasi tersebut tidak dilakukan sesuai dengan kesepakatan dengan pihak perusahaan.

Sementara itu, Ketua Konsolidasi SBSI, Amser Hutauruk memperingatkan dan berharap praktek serupa jangan ada lagi yang melakukan.

“Lebih baik membuang satu organ tubuh yang buruk dari pada kita nantinya menggerogoti seluruhnya,” paparnya.(Mat/Julio)

Related posts

%d bloggers like this: