Buruh Entertainment 

Laksanakan Trisakti, Hentikan Jual Kekayaan Kepada Asing

Ditulis :Prof. Muchtar Pakpahan

Dr. Batara Simatupang, adik kandung Jenderal TB. Simatupang (Kepala Staf/Panglima TNI II Pengganti Jenderal Sudirman) yang sekarang berdiam di Amsterdam, pernah berceritera kepada saya.

Awal tahun 1960-an Presiden Sukarno pernah berbicara kepada para mahasiswa/pemuda tentang Trisaksi bidang ekonomi berdiri di atas kaki sendiri karena Negara kita sangat kaya. Kita harus cerdas mengelola kekayaan itu.

Jangan pernah serahkan orang asing mengelola kekayaan kita, karena sekali kita serahkan akan sulit kita meminta kembali dari para kapitalis imperialis itu. Karena itu kalian para pemuda kuberangkatkan belajar, timba ilmu bagaimana mengelola kekayaan kita dengan kemampuan sendiri.

Batara Simatupang mengisahkan, ia ditugaskan Presiden sekolah ekonomi ke Warsawa, belajar ekonomi sosialis dan sahabat kentalnya sama-sama mahasiswa FE UI Prof. Dr. Emil Salim ditugaskan Sukarno belajar ke USA.

Tetapi malapetaka peristiwa 30 September 1965 merubah jalan hidupnya. Kepadanya diminta menandatangani surat pernyataan menghujat Sukarno dan mendukung Suharto. Karena Batara dan ribuan mahasiswa Indonesia yang di Eropa menolak menandatangani, lalu paspornya dicabut, tidak boleh kembali ke Indonesia, mereka ribuan menjadi stateless. Di Indonesia mereka disebut komunis. Sedihnya beberapa mereka memiliki dua gelar doktor.

Suharto menjadi presiden melalui kudeta merangkak, dengan menggunakan supersemar yang tidak jelas kebenaranaanya. Dokumennya tidak ada hingga sekarang. Prof. Dr. Wijojo Nitisastro, Prof. Dr. Emil Salim dkk menjadi menteri, berbasis Barkley group, ekonomi neolib.

Segera sesudah Suharto menjadi presiden, harta-harta kekayaan sebutlah Exon mobil Aceh Utara, Caltex Riau, Freeport Papua, Gas di Kalimantan Timur, jatuh ke tangan USA. Pastinya mereka nikmati, sampahnya tinggal di masyarakat setempat, memang menimbulkan pertambahan kekayaan yang luar biasa bagi beberapa pribadi termasuk keluarga Suharto dan kroninya.

Sekarang, sesudah Jokow-JK memerintah, ada ganti arah. Menghentikan menambah kekayaan diserahkan ke USA, tetapi secara besar-besaran diserahkan ke RRC. Sebagai negara sosialis di dalam negeri, tetapi dia menjadi kapitalis ke luar negeri.

Apa yang kita serahkan? Pembangkit listrik, pabrik pupuk, kereta api, mengelola pulau dll. RRC (China) malah lebih ganas dari USA. China datang membawa: modal, manajer/ahli, produk dan buruh lalu pulang bawa untung. USA membawa modal, manajer/ahli lalu bawa untung.

SBSI berhadapan langsung di lapangan. Pertama, buruh yang dibawa itu adalah buruh kasar, seperti supir, tukang las, tukang gali dan lainnya.

Kedua, upah buruh itu 2 hingga 3 kali lipat dari upah buruh Indonesia dan anggota Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) terintimidasi di perusahaan itu.

Ketiga, buruh asing itu kebanyakan mempergunakan visa wisata, tetapi bila bertemu dengan instansi Ketenagakerjaan dan Imigrasi, petugas kembali dengan bahagia, tetapi anggota SBSI yang kecewa.

Bagi SBSI, menyerahkan kekayaan kepada asing sama dengan menjual bangsa kepada asing, berarti menghianati Trisakti Sukarno. Salah satu janji Jokowi waktu kampanye sebagai calon presiden, mewujudkan trisakti. Pemerintahan Jkowi-JK bertobatlah, kembalilah ke Trisakti Sukarno.

Related posts

%d bloggers like this: