Buruh SBSI 

Prof. Muchtar Pakpahan: Jangan Jual Negeri Ini ke Asing, Ingat Trisakti Bung Karno

JAKARTA – Pernyataan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan terkait masuknya Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China ke Indonesia yang meminta tidak digulirkan sebagai isu Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) sungguh telah melukai Tri Sakti Presiden pertama Republik Indonesia (RI) Ir. Soekarno dan janji politik Jokowi.

Hal itu dinyatakan Ketua Umum (Ketum) Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Prof. Muchtar Pakpahan kepada SBSINews.com, karena kondisi dilapangan yang dialami para buruh jauh berbeda dengan yang diungkapkannya itu.

Menanggapi pernyataan luhut yang diberitakan di cnnindonesia.com pada Kamis (19/10/2017), pria yang akrab disapa MP itu mengingatkan agar Luhut kembali menghayati, memahami dan mengamalkan Tri sakti Ir. Soekarno yang juga merupakan janji politik presiden saat ini Joko Widodo.

“Kami dilapangan mengalami diskriminasi pengupahan dan pelayanan, faktanya buruh china adalah buruh kasar dan gajinya mencapai dua hingga empat kali lipat dari buruh Indonesia. Banyak pengaduan dari buruh di daerah. Saya ingatkan, jangan jual negara ini ke asing dan jangan kangkangi Tri Sakti Soekarno,” katanya di Jalan tanah Tinggi II, Jakarta.

Tri Sakti itu berbunyi, sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat perlu dan mutlak memiliki tiga hal, yakni berdaulat di bidang politik, berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan seperti dikutib dari detik.com, Rabu (3/10/2014).

Dalam pemberitaan itu menurut Luhut, Perusahaan yang bersangkutan melakukan untuk merealisasikan investasinya karena TKA China mengerjakan tugas yang tidak bisa dilakukan pekerja domestik.

Luhut mencontohkan, China sudah menggelontorkan banyak uang untuk kompleks smelter di Morowali yang dikelola PT Indonesia Morowali Industrial Park dan Konawe yang dikelola PT Virtue Dragon Nickel. Dalam merealisasikan investasi, investor China membutuhkan pembangkit listrik 2 ribu megawatt (MW) dan harus dikerjakan dalam 24 bulan.

Ia menilai kemampuan tenaga kerja Indonesia tidak bisa melakukan pembangunan tersebut. Sehingga wajar saja investor China menggunakan tenaga kerjanya demi merealisasikan pembangunannya.

“Skill pegawai kita tidak banyak. Kami hanya cari solusi, sehingga jangan bikin isu SARA di sini,” papar Luhut di kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (18/10).

Meski memperbolehkan TKA masuk, ia mewakili pemerintah berjanji tetap akan tegas terhadap investor di mana Penanaman Modal Asing (PMA) asal China wajib bangun politeknik agar tercipta transfer pengetahuan. Dengan demikian, secara bertahap, TKA asal Negeri Tirai Bambu itu pun akan kembali ke negaranya.

Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, total TKA dari China ditahun 2016 mencapai 21.271 orang. Angka ini meningkat 21,44 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya 17.515 orang.(mat)

Related posts

%d bloggers like this: