Ekonomi Opini 

Budaya Ekonomi Kita

Masalah ekonomi dan perdagangan kita semakin mengkhawatirkan. Pertama karena semakin meningkatnya jumlah hutang negara dan semakin tidak maraknya masuk obat terlarang dalam jumlah yang fantastik dan diluar nalar sehat. Para pelakunya seperti tidak menghadapi ancaman hukuman mati dan seumur hidup.

Lalu pada bidang bisnis pun tampak jelas mengabaikan tatanan hukum dengan membangun tanpa memenuhi syarat terlebih dahulu. Sikap arogan pengusaha property jelas meremehkan fungsi pemerintah pusat maupun Daerah. Karena pihak-pihak yang kompeten sudah terbiasa dapat diatur semuanya pihak pengusaha. Inilah diantaranya yang membuat warga masyarakat kebanyakan merasa miris, tersinggung lantaran perlakuan terhadap rakyat kebanyakan seperti pedagang kaki lima seakan tidak terampunkan untuk digusur dan dirampas dagangannya.

Kecemburuan masyarakat kecil pun ditingkahi dengan perlakuan pemerintah yang memberi pengampuan pajak terhadap pengusaha besar dan para konglomerat. Sementara untuk rakyat kecil yang menggunakan kendaraan sepeda motor misalnya harus digelandang atau dikejar-kejar hingga menghambat pekerjaan serta beragam bentuk usaha, sekedar untuk memenuhi kebutuahannya.

Secara umum bahkan nyaris rutin masalah komuditas pangan kita rutin mengguncang warga masyarakat kelas menengah ke bawah, apalagi bagi mereka yang terbilag miskin. Mulai dari harga cabe hingga garam dan bahan bakar minyak serta gas.

Dengan sendirinya rasa tidak puas warga masyarakat terhadap pelayanan dan perlindungan dari pemerintah terhadap rakyat banyak, wajar menimbulkan penilaian negatif pada pemerintah dengan segenap aparatnya. Penilaian negatif dari warga masyarakat ini tentu saja akan sangat mempengaruhi suka cita dan selera mentukan pemiilihan calon kandidat dalam Pilkada, Pileg maupun Pilres mendatang.

Agaknya, sepanjang tahun 2017, budaya ekonomi yang tercermin dari pelaksanaan pemerintahan baik pada tingkat pusat maupun daerah biasa-biasa saja, kalau tidak bisa dikatakan belum ada yang menggembirakan. Usaha warga masyarakat kebanyakan disektor ekonomi dan perdagangan tetap harus menguras banyak keringat. Komuditas petani di negeri agraris ini tetap belum ada yang bisa dibanggakan menjadi unggulan.

Catatan Akhir Tahun Atlantika Institut Nusantara

Oleh: Ratuate & Jacob Ereste

Related posts

%d bloggers like this: